Selamat, pantas disampaikan kepada insan Aesculapius Indonesia yang bisa menorehkan sejarah 100 tahun kiprahnya. Sejarah yang panjang disertai dengan kurang lebihnya nilai peran dokter dalam mempertahankan status manusia Indonesia yang sehat.
Awal kiprah dokter Indonesia kita mengenal lewat karya dalam bidang politik melawan kolonialisme, pemikiran dan tindak tanduk jiwa seorang dokter diakui oleh pemerintah kolonial lewat dr. Sutomo, dr Wahidin, dan dr. Cipto, karya agung mereka untuk negeri ini pun ditorehkan dalam lembaran sejarah kebangkitan nasional Indonesia dan ditanamkan dalam pikiran anak Indonesia lewat pelajaran sejarah Indonesia walaupun tidak banyak mengupas tentang profesi dokternya.
Waktupun berlalu masih banyak kiprah dokter-dokter yang lain yang mampu berbuat bagi bangsa ini namun karena momentum sejarah telah berubah dan memihak pada kiprah profesi militer, politikus, dan praktisi hukum maka peran dokter dalam rentang waktu 100 tahun ini pun seakan tenggelam. Kalaupun ada yang berperan di daerah hanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit atau nama Jalan karena kebutuhan local specific brand.
Sejalan dengan itu makin banyaklah dokter Indonesia yang “banting stir” dari jalur medis ke politik terbukti dengan semakin banyak dokter yang duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat, dan juga kursi kepala daerah seperti dr. Elly Engelbert Lasut, Bupati Kepulauan Talaud dan dr. Jusuf Serang Kasim, Walikota Tarakan. Akan tetapi tidak bisa juga kita menutup mata kemajuan di kedua daerah tersebut sangat pesat dibanding pemerintahan sebelumnya. Bahkan Bupati dr. Elly Lasut menurut warta e gov, termasuk Bupati dengan kinerja terbaik se Indonesia.
Kiprah dr. Siti Fadhilah Supari, juga tidak bisa dipandang sebelah mata dengan kekukuhannya mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia dalam kasus kompensasi pengiriman sample virus dengan pihak NAMRU, saya lihat hanya sebagai cerita dagelan tanpa nilai berita apalagi nilai historis. Bangsa Indonesia masih lebih peduli dengan goyangan Dewi Persik dan kasus Dhani-Maia, bahkan DPR lebih sibuk dengan UUD-nya Slank alih-alih mendukung Menteri Kesehatan dalam penyelesaian kasus ini.
Balik kepada pembentukan jiwa seorang dokter, saya dan dr Elly Lasut kebetulan satu almamater tindak tanduknya sangat terasa jiwa kedokterannya yang melekat disetiap mahasiswa maupun mantan mahasiswa fakultas kedokteran mana saja. Syair lagu “Kalau kuberhasil nanti ku akan menjadi dokter…semua kulayani dengan sabar…tiada kubedakan anatara miskin dan kaya karna ini soal kemanusiaan…”, masih menggema dalam pikiran saya padahal lagu ini diajarkan ketika masa orientasi mahasiswa baru, puluhan tahun lalu. Dengan cucuran air mata dari masing-masing kami ketika melafalkan Sumpah Dokter Indonesia “ Demi Allah saya bersumpah…..Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan kemanusiaan”…. “Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara terhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya”…..”Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial.”, itulah penggalan dari lafal sumpah Dokter Indonesia yang diadaptasi dari “The Oath of Hypocrates”.
Keadaan yang terjadi sekarang ini justru kebalikannya, profesi dokter telah dianggap sebagai investasi (saya setuju dengan senior saya dr. Anang) dan ketika menyandang brevet dokter, dituntut untuk mencapai Break even Point (BEP), as soon as possible, tapi saya tahu tidak semua rekan sejawat dokter seperti itu. Kasus malapraktek yang merebak tahun tahun terakhir, menyulut dibentuknya Konsil Kedokteran Indonesia dengan diterbitkannya Surat Tanda Registrasi untuk setiap dokter Indonesia, bagi saya bukanlah solusi dari segi pembentukan moral dokter yang dimaksudkan oleh Hypocrates. Moral dokter Indonesia era sekarang ini harus dibekali dengan bagaimana berinteraksi dengan pasien dengan pendekatan interpersonal yang mengedepankan kasih sayang (empati bukan simpati) terhadap pasien. Saya tidak mengada-ada, kalau kasih sayang yang ditunjukan maka pasien akan memaklumi bahwa sang pasien datang ke dokter karena sakit dan ingin diperlakukan sebagai manusia yang minta tolong akan merasa terlindungi dan akibat negatif yang terjadi selama proses penyembuhan selama tidak fatal (masih sesuai protap), maka pasien dan keluarganya akan maklum.
Program penempatan dokter PTT di daerah cukup membantu membentuk karakter dokter yang sesungguhnya, dokter yang melewati masa PTT apalagi di daerah terpencil akan membentuk mindsetnya bahwa masih banyak orang yang kurang beruntung dan butuh uluran tangan orang lain, dalam hal pemenuhan kebutuhan kesehatan, dokter masih sangat dibutuhkan di daerah terpencil.
Ketika menulis tulisan ini saya sempat meneteskan air mata, haru… karena lewat mata dan telinga saya, saya masih bisa melihat dan mendengar keluhan orang-orang termarjinalkan di daerah suku terasing atau di daerah Komunitas Adat Terpencil (KAT), yang benar-benar sakit kronis dan selama ini belum tersentuh pelayanan kesehatan. Banyak penduduk suku terasing yang mati karena masih mengandalkan kepercayaan animisme. Bagimana tidak, didaerah suku terasing di wilayah kerja saya, ketika seorang warga sakit panas disertai menggigil (mungkin Malaria), mereka hanya mengadakan ritual membelah hati seekor babi dan melihat apakah yang akan dilakukan untuk orang ini, jika pimpinan adat berkata penyakit tidak bisa disembuhkan, maka orang yang sakit ini akan diasingkan tanpa makan dan minum, hasilnya, ya mati.
Haru dan bangga ketika tangan, kaki, dan pikiran dari dua dokter, saya dan teman sejawat saya (dr. Vanda). Menyentuh tubuh orang yang benar-benar sakit dan tidak tahu mau buat apa, bahkan ketika stetoskop menyentuh bidang dada mereka, terdengar degup jantung yang begitu kuat, terdengar pula aliran air sungai deras mengikuti irama napas mereka yang menunjukkan rata-rata paru mereka abnormal. Dalam pikiran saya “Oh Tuhan, Terima Kasih Engkau memberikan kepada saya profesi mulia ini .”, Kepuasan tiada tara ketika melihat senyum sumringah dari warga terpencil ini, walau menyisakan keprihatinan “Sampai kapan mereka bisa bertahan hidup seperti ini”
Hari bakti dokter Indonesia tanggal 21 Mei, diharapkan menjadi momentum kebangkitan dokter Indonesia, bagi yang ada di pemerintahan sebagai pengambil keputusan buatlah kebijakan yang memihak pada masyarakat termarjinal, saatnya BLT yang diributkan ditujukan kepada masyarakat yang belum tersentuh oleh program pemerintah seperti di kawasan suku terasing, mereka juga warga Indonesia lho. Bagi teman sejawat yang berkelebihan sisihkanlah bagian untuk mereka yang bahkan tidak tahu apa itu dokter. Oh ya ketika kami masuk ke daerah suku terasing kami dipanggil Tuan (menurut mereka representasi Tuhan). Bagi Teman sejawat yang belum punya apa-apa setidaknya kita punya waktu dan kesempatan untuk turun tangan langsung mengurangi penderitaan mereka.
Ternyata Profesi Dokter yang dewasa ini cenderung telah tercemar oleh ulah oknum dokter sendiri masih sangat dibutuhkan untuk bersama bangsa ini menyukseskan visi Indonesia Sehat 2010. Organisasi Profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), yang terkesan mandek; setidaknya didaerah kami, harus menata lagi pranata Profesi ini mengangkat citra dokter menjadi profesi yang terhormat dan bermartabat bukan hanya dalam penyelesaian kasus penyakit secara modern akan tetapi juga meletakkan citra dokter yang “membaktikan hidupnya guna kepentingan kemanusiaan” sesuai sumpah dokter Indonesia. “Jayalah Dokter Indonesia, bakti untuk bangsaku.”
Ditulis oleh dr. James H.D. Pinontoan, Kepala Puskesmas Tataba
Recent Comments